Ikhlas adalah memurnikan tujuan dari setiap ketaatan hanya kepala Allah

Kita dapati manusia sejagat raya pada hari ini, apapun agama dan keyakinanya, berlomba-lomba mencari kebahagiaan. Tak banyak dari mereka yang berhasil mendapatkannya. Kalaupun ada, itu hanya sebentar saja, setelah itu berakhir dengan kesengsaraan yang berkepanjangan. Ini baru di dunia, belum lagi di akhirat kelak. Sesungguhnya tidak ada kehidupan dan kebahagiaan bagi hati manusia kecuali dengan ikhlas kepada Allah.

Ikhas adalah syarat ditermanya amal. Sesungguhnya Allah tidak akan menerima sesuatu amalan kecuali diniatkan ikhlas kepada-Nya. Barang siapa yang ikhlas niatnya dalam suatu kebenaran meskipun itu atas dirinya sendiri maka Allah akan mencukupkannya dari manusia. Tetapi barang siapa yang memperbagus amal ( untuk riya ) maka Allah SWT akan menampakkan keburukannya.

Kedua kalimat diatas merupakan gudang ilmu dan termasuk infak terbaik. Manfaat yang sangat banyak bisa diambil darinya. Kalimat pertama adalah sumber dan asal dari segala kebaikan, sedangkan kalimat kedua adalah sumber dari segala keburukan dan kejahatan.

Pengertian ikhlas adalah memurnikan tujuan setiap ketaatan hanya kepada Allah SWT. Ada juga yang berpendapat bahwa ikhlas adalah memurnikan maksud dan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah dari hal-hal yang dapat mengotorinya.

Sahl Berkata :
إخلاص أدلة هنذاكنيا دعم ضن غرقنيا سرنج هامبا هانية أنطق الله صمتا
" ikhlas adalah hendaknya diam dan geraknya seorang hamba hanya untuk Allah semata."

Ibrahim bin Adham berkata :
إخلاص أدله بنرنيا نية قرانا الله
"ikhlas adalah benarnya niat karena Allah."
Permasalahan niat adalah  permasalahan yang sangat urgen dan penting sekali. beberapa banyak ayat hadist Rasulullah SAW yang menerangkan dan menggambarkan pentingnya niat. Selain itu, Allah memuji orang yang benar-benar niatnya dan mencela orang yang salah niatnya. Allah berfirman :

"dan kami hadapkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu ( bagaikan ) debu yang beterbangan." ( QS.AlFurqan : 23 )
" padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam ( menjalankan agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikan itulah agama yanglurus." ( QS. Al-Bayyinah: 5 )

Dalam surat yang lain Allah berfitman : ".... Barang siapa mengharap perjumpaan dangan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal ang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya." ( QS. Al-Kahfi : 110 )
Fudhai bin Iyadh dan Imam Ibnu Katsir berkata, " Maksudnya adalah yang paling ikhlas dan paling benar amalnya."
Orang-orang bertanya, " Wahai Abu Ali, amal apa yang paling ikhlas dan benar?"
Ia menjawab, " Amal yang ikhlas tapi tidak benar, tidak akan diterima Allah. Demikian sebaliknya, jika benar tapi tidak ikhlas juga tidak akan diterima, sampai amalan itu dilakukan dengan ikhlas dan benar. Amal yang ikhlas adalah amalan yang dikerjakan hanya untuk Allah semata, sedangkan yang benar adalah amal yang sesuai dengan sunnah."

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda :
" Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada wajah dan harta kalian, akan tetapi Allah melihat kepada hati dan amalan kalian ( HR. Muslim )

Abdullah Bin Mas'ud berkata, " Jadiah kalian orang yang dikenal para penghuni langit namun tidak dikenal para penghuni bumi."

Imam Syafi'i, Imam Ahmad bin hambal, ibnu Mahdi, Ibnu Madini, Imam Abu Dawud, dan Imam Daruquthni dalam hal niat telah bersepakat bahwa niat adalah sepertiga dari ilmu. Sebagian yang lain mengatakan seperempat dari ilmu. Imam Al-baihaqi memberikan suatu alasan kenapa niat termasuk seper tiga dari ilmu. Karena, perbuatan manusia itu senantiasa berhubungan dengan tiga unsur, yaitu hati, lisan dan anggota tubuh.

Diantara ketiga hal tersebut, niat adalah yang terpenting bahkan, terkadang niat merupakan ibadah tersendiri ( mustaqillah ) dan ibadah yang lain mengikutinya. maka, dapat dikatakan bahwa niat seorang mukmin itu lebih baik dari amalnya.

Baca referensi dari :
  1. An-Nawawi dalam Nuzhatul Muttaqin : 1/19
  2. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam I'lamu Muwaqqi'in, hal.182
  3. Ahmad Farid Tazkiyatun Nafs; Konsep Penyucian jiwa Menurut Ulma Salafus Sholih, hal. 11
  4. Jamaludin Al-Qasimi dalam Tahdzid Mau'idhatul Mukminin, hal. 427
  5. Ahmad Farid dalam tazkiyatun Nafs; Konsep Pensucian Jiwa Menurut Ulama Salafus Sholih, hal 219
  6. Ibnu Jauzi dalam Shifa As-Shafwah : 1/415
Previous Post
Next Post